Menembus Jalur Darat Belangian, Menuju Air Terjun Lembah Kahung

"Air Terjun Gunung Kahung"

Cerita kali ini saya mulai dari saat saya menghubungi Amin pada hari Jumat. Saya mengirim pesan untuk menanyakan apakah ada info tektok atau trail run dengan ketinggian sekitar 1.000 mdpl. Oh iya, Amin ini adalah teman saya yang bisa diajak naik gunung ataupun bukit, baik tektok maupun trail run. Kami juga sudah sering melakukan pendakian bersama sebelumnya, seperti di Gunung Halau-Halau, Gunung Kahung, dan beberapa bukit di sekitar wilayah Kabupaten Banjar.

Amin kemudian membalas pesan saya dengan memberikan dua opsi, yaitu Gunung Haur Bunak atau Gunung Kahung. Saya pun membalas dengan memilih Gunung Kahung saja, namun dengan konsep yang berbeda dari tektok ataupun trail run sebelumnya. Kali ini, di Gunung Kahung saya mengusulkan lewat jalur darat saja, tanpa melewati jalur air atau menggunakan kapal.

Amin membalas dengan jawaban boleh, lalu menanyakan apakah saya menghafal jalan darat tersebut. Saat itu memang belum ada petunjuk dari Google Maps ataupun rute menuju Desa Belangian, yaitu desa tempat Gunung Kahung berada. Saya pun menjawab iya, padahal sebenarnya saya juga tidak tahu jalur darat tersebut dan hanya bermodalkan riset serta melihat jalur menuju Desa Belangian melalui YouTube maupun internet.

"Pencarian rute google maps ke belagian"

Perlu diketahui, jalur menuju ke sana masih berupa jalan berbatu dan tanah. Jika musim hujan, kendaraan akan cukup sulit menuju Desa Belangian. Untungnya, saat itu kami mendapatkan musim panas sehingga kondisi jalan kering. Karena itulah saya berani mengusulkan lewat jalur darat saja.

"Jalan menuju desa Belagian"

Hari berikutnya, pada hari Sabtu, Amin mengatakan bahwa ia hanya bisa naik di hari Senin. Saya pun menjawab bahwa saya juga tidak bisa melakukan pendakian di hari weekend karena banyaknya agenda.

Kemudian beralih ke hari Minggu, Amin kembali menanyakan opsi, apakah kita ke Haur Bunak atau ke Kahung. Saya menjawab lebih bagus ke Gunung Kahung Basar. Gunung Kahung Basar ini merupakan gunung yang baru dibuka dengan ketinggian sekitar 1.305 mdpl, berbeda dengan Gunung Kahung yang memiliki ketinggian 1.456 mdpl. Melihat beberapa foto dan video yang berseliweran di Instagram, saya pun memberikan opsi ke Kahung Basar karena gunungnya cantik dan panoramanya sangat indah, cocok untuk berfoto-foto.

Amin membalas bahwa jika tidak bisa tektok ke Gunung Kahung Basar, maka kita ke Air Terjun Lembah Kahung saja. Saya pun menjawab boleh, karena memang tektok kali ini hanya ingin fun dan tidak terlalu serius.

Setelah itu saya mulai mempersiapkan barang-barang dan membeli beberapa bahan di swalayan. Tidak lama kemudian, sekitar pukul 20.33 malam, Amin menghubungi dan bertanya bagaimana kalau kita berangkat malam itu saja. Saya menjawab agar menunggu karena saya ingin berpikir dulu. Jalan ke sana gelap dan tidak ada penerangan sama sekali. Dalam hati, yang saya pikirkan bukan soal makhluk gaib, melainkan risiko begal atau hal-hal yang tidak diinginkan.

"Barang-barang kebutuhan Trail Run"

Tidak lama kemudian, saya pun mengiyakan. Amin mengatakan kemungkinan ia akan sampai ke tempat saya sekitar pukul 22.00. Saat itu saya mulai packing barang. Ketika Amin sudah datang, saya masih belum selesai packing. Saya baru benar-benar selesai sekitar pukul 00.00, namun kami belum membeli beras dan bensin untuk perjalanan ke Belangian.

"Perlengkapan Trail Run"

Setelah membeli semuanya, kami pun berangkat sekitar pukul 00.30 dari Banjarbaru. Sebelumnya, kami juga sempat menghubungi Pokdarwis melalui Instagram untuk menanyakan apakah jalur darat aman dilalui. Di tengah perjalanan, barulah Pokdarwis membalas bahwa jalannya kering. Dalam pikiran saya, jalannya pasti enak dan mulus.

Di awal perjalanan memang jalannya sangat mulus hingga ke arah Bukit Mawar. Namun tidak lama kemudian, kami sampai di jalan berbatu kerikil yang menandakan perjalanan kami benar-benar dimulai. Fokus dan mental harus dijaga. Kami membawa motor pelan-pelan sambil banyak mengobrol agar tidak melamun, karena ini adalah pertama kalinya kami menuju Desa Belangian lewat jalur darat dan hanya bermodalkan menonton YouTube serta mencari informasi di internet.

Tidak lama kemudian, kami melewati jalan kerikil dan langsung masuk ke jalan tanah liat yang cukup panjang. Awalnya terasa aman, tetapi di pertengahan jalan tanah liat tersebut, lampu motor dan senter sangat tidak membantu untuk melihat kondisi jalan. Akhirnya kami salah mengambil jalur dan masuk ke jalan berlumpur bekas dilalui mobil.

Motor saya pun amblas. Saat itu kami berada di tengah hutan sekitar pukul 02.30. Kami berusaha mendorong motor dan mencari cara agar motor tidak terus amblas. Sekitar 10 menit kami berjibaku melewati jalan becek tersebut. Motor amblas karena lumpurnya sangat dalam. Padahal sebelumnya kami diberi tahu oleh Pokdarwis melalui Instagram bahwa jalannya kering, namun kenyataannya masih ada beberapa bagian yang berlumpur. Ditambah lagi, motor saya cukup besar sehingga sulit didorong, dengan lumpur setinggi injakan kaki motor.

Setelah berhasil melewati jalan berlumpur itu, kami melanjutkan perjalanan dan tidak lama kemudian sampai di pos jaga. Namun karena kehilangan fokus, kami kembali salah mengambil jalan dan kembali amblas, meskipun hanya sebentar. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan dan akhirnya sampai di Desa Belangian sekitar pukul 03.00 pagi.

Sesampainya di desa, kami bersih-bersih karena motor dan kaki sangat kotor terkena lumpur. Setelah itu kami mencoba tidur, namun tidak bisa. Sekitar pukul 04.00 pagi, Amin mengatakan bagaimana kalau kita masak saja. Kami pun mulai memasak. Pendakian kali ini terasa berbeda karena biasanya kami malas masak, tetapi kali ini justru memasak makanan yang cukup mewah, yaitu ayam sambal matah dengan kondimen lengkap.

"Kondisi Kaki saya"
"Kondisi kaki amin"

Saat memasak, kami mencoba untuk senyap agar tidak membangunkan orang lain. Namun nyatanya tidak bisa senyap juga, karena suara memotong bawang dan obrolan kami yang penuh tawa saat mengingat perjalanan tadi. Setelah memotong bawang, kami melanjutkan memasak dan memilih memasak di tengah jalan agar suara menggoreng tidak terlalu terdengar. Saya kemudian menyarankan agar kami memasak mi juga supaya kenyang, karena saya mengira nasi yang kami bawa sedikit, padahal ternyata banyak sekali.

"Memasak di Jalan"
"Menu makanan"

Setelah makan, kami mencoba tidur lagi. Namun saat hampir terlelap, jam sudah menunjukkan pukul 05.00. Para pendaki jalur darat yang sudah turun dan ingin pulang mulai ramai dan berisik, sehingga kami tidak tidur sama sekali. Awalnya saya mengatakan kepada Amin bahwa kita mulai perjalanan jam 08.00 saja, tetapi sekitar pukul 06.00 saya berubah pikiran dan mengajak untuk mempercepat pendakian. Amin pun setuju karena memang kami sudah tidak bisa tidur.

Kami melakukan registrasi dan menanyakan apakah Kahung Basar bisa dilakukan tektok. Jawaban dari pihak pengelola adalah bisa, tetapi hanya satu orang saja yang bisa tektok, dan sayangnya orang tersebut sedang tidak ada. Akhirnya kami memutuskan untuk ke air terjun saja. Setelah registrasi, kami mempacking barang dan kebutuhan ke vest trail atau tas trail run. Setelah itu kami langsung memulai pendakian sekitar pukul 07.30.

Kurang lebih satu jam perjalanan, kami sampai di ujung paving atau Pos 1. Kami tidak terlalu lama singgah karena sebelumnya sudah beberapa kali berhenti di perjalanan untuk berswafoto. Setelah berjalan beberapa meter, saya melihat dan mencoba fasilitas baru yang disediakan oleh pihak Pokdarwis, yaitu flying fox yang berfungsi sebagai antisipasi apabila debit air sungai meluap dan deras agar tetap bisa dilewati. Sekitar kurang lebih 30 menit dari flying fox, kami sampai di Pos 2.

"View perjalanan menuju pos 1"
"flying fox Gunung Kahung"

Di pertengahan perjalanan dari Pos 2 ke Pos 3, kami menjumpai pohon Kariwaya. Kami berfoto-foto di sana sebanyak mungkin karena pendakian kali ini memang fun dan tidak mengejar waktu. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan dan sampai di Pos 3. Di Pos 3 terdapat dua tenda, namun orangnya tidak ada, kemungkinan sudah summit.

"Pohon Kariwaya"

Tidak lama kemudian, kami kembali berfoto-foto di pertengahan menuju air terjun Lembah Kahung karena view sungai dengan batu-batu besar terlihat sangat bagus. Perjalanan dari Pos 2 ke Pos 3 memakan waktu sekitar satu setengah jam, begitu juga dari Pos 3 ke air terjun Lembah Kahung.

"View Pertengahan Jalan Pos 3 menuju Air Terjun"

Sesampainya di air terjun, kami beristirahat cukup lama dan mengambil banyak foto karena pemandangannya sangat indah. Setelah beberapa lama, kami memutuskan untuk pulang sekitar pukul 12.30. Di perjalanan, perut saya tiba-tiba sakit saya menduga itu akibat kebanyakan makan saat subuh tadi.

"View Air Terjun Lembah Kahung"

Kami melanjutkan perjalanan dengan irama santai dan sampai di Pos 3 sekitar setengah jam kemudian. Di Pos 3 kami bertemu dua orang pendaki dari Amuntai yang baru naik. Kami mengobrol sebentar, lalu melanjutkan perjalanan menuju Pos 2 tanpa singgah dan langsung ke Pos 1.

Sesampainya di ujung paving, saya berharap ada ojek, tetapi ternyata tidak ada. Karena kondisi perut masih sakit, kami melanjutkan perjalanan dengan sangat santai. Di jalur paving, kami merasakan sakit di kelingking dan jari manis kaki. Akhirnya kami membuka sepatu dan berjalan tanpa alas kaki. Awalnya terasa enak, tetapi setelah sekitar 4 km berjalan, seluruh telapak kaki justru terasa sakit. Kami pun kembali memakai sepatu.

"Nyeker-nyeker club"

Tidak lama kemudian, kami menjumpai jembatan yang menjadi tanda bahwa desa sudah dekat. Menjelang sampai desa, kami diberi tumpangan oleh warga yang baru pulang dari kebun. Saya sangat bersyukur karena kondisi perut yang sakit sangat terbantu. Akhirnya kami sampai di basecamp sekitar pukul 15.00. Sesampainya di sana, kami memesan menu andalan kami, yaitu Extra Joss susu dan mi. Tidak lama setelah makan, akhirnya gejala sakit perut saya “memanggil”, dan setelah itu saya pun merasa lega.

"Diberi tumpangan"

Awalnya kami ingin pulang lewat jalur air atau kapal, yang mengharuskan kami menunggu pagi hari karena jadwal kapal hanya ada di pagi hari. Namun saya mengusulkan untuk langsung pulang saja hari itu karena masih ada agenda di malam hari. Amin pun setuju. Setelah packing dan bersih-bersih badan, kami berangkat dari basecamp sekitar pukul 17.00 menuju Banjarbaru.

Saat berangkat malam sebelumnya, kami tidak melihat apa-apa selain gelap dan sunyi. Namun saat pulang di sore hari, kami justru disuguhi pemandangan yang indah di sepanjang jalan tanah dan berbatu kerikil, seperti persawahan, pegunungan, Danau Riam Kanan, Pematang Aceh, dan masih banyak lagi. Setelah keluar dari jalan berbatu, kami sampai di jalan aspal yang menandakan kami sangat dekat dengan Gunung Mawar.

"View persawahan"
"Pematang Aceh"
"View Danau Riam Kanan"

Kami sebenarnya sempat ingin singgah ke Bukit Mawar sekadar berhenti sejenak dan melepas lelah. Namun setelah melihat kondisinya yang sudah tidak terurus, suasananya terasa sepi dan sedikit seram, kami akhirnya memutuskan untuk tidak memaksakan diri dan langsung melanjutkan perjalanan pulang. Dengan kondisi tubuh yang sudah lelah setelah perjalanan panjang, kurang tidur, dan pendakian yang cukup menguras tenaga, keputusan itu terasa paling masuk akal.

Perjalanan ini jadi pengingat bahwa rencana bisa saja berubah di lapangan, dan justru di situlah serunya belajar menyesuaikan diri sambil tetap menikmati setiap prosesnya. Meski sederhana, perjalanan ini memberikan banyak pengalaman baru, mulai dari mencoba jalur darat menuju Desa Belangian untuk pertama kalinya, menghadapi medan yang tidak selalu sesuai ekspektasi, hingga menikmati pendakian dengan ritme santai tanpa tuntutan apa pun.

Sekitar 30 menit kemudian, kami akhirnya tiba kembali di Banjarbaru. Dengan badan yang lelah namun perasaan puas, berakhirlah seluruh cerita perjalanan kali ini meninggalkan pengalaman dan cerita yang akan selalu menarik untuk diingat di perjalanan berikutnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Perjalanan Pendakian Gunung Kahung

Tektok Menuju Puncak: Petualangan Gunung Halau-Halau